Thursday, January 31, 2013

Petaka mengarungi dunia


“Sampah- Sampah Plastik Yang Mengotori Kota Bandar Lampung”

Akhir-akhir  ini di tahun 2012, kota Bandar Lampung dicap oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai kota terkotor dIkarenakan masalah sampah yang tak kunjung selesai (Dicap Terkotor,TEMPO.COM, 11 Juni 2012).

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah digunakan. Berdasarkan  sifatnya, sampah terbagi menjadi 2 jenis, antara lain sampah organik dan sampah an organik. Sampah organik merupakan jenis sampah yang mudah diurai dan bisa dijadikan pupuk, contohnya seperti kotoran hewan, tumbuhan, dan lain-lain. Sedangkan sampah an organik ialah jenis sampah yang dapat membuat ekosistem tidak seimbang. Perlunya waktu beratus-ratus  tahun untuk menguraikan sampah an organik  menjadi salah satu penyebab utama.

Berdasarkan pantauan di pesisir Teluk Betung dan Panjang, kota Bandar Lampung. Desa Sukaraja, tumpukan sampah tetap memenuhi pantai tersebut, sehingga pantai itu berubah menjadi lautan sampah yang terbawa ombak ke pantai. Sampah tersebut ternyata mempengaruhi pulau-pulau di sekitar Teluk Lampung, seperti Pulau Tangkil, Pulau Tegal, Pulau Mahitam, dan lain-lain (Pesisir Lampung Jadi Tempat Buang Sampah, Kompas.com, 23 Januari 2011)

Pembuangan sampah secara sembarang, akan berakibat buruk bagi lingkungan dan kesehatan karena dapat mempercepat pemanasan global melalui gas metan (CH4). Dampak negatif sampah yang berkenaan dengan kesehatan ialah karena timbulnya penyakit-penyakit, seperti ;diare, kolera, dan tifus yang menyebar dengan cepat karena mikro organisme dari sampah tersebut yang  tidak ditangani dengan baik. Sampah juga menyebabkan gangguan pada lingkungan masyarakat, yaitu pencemaran air, polusi udara, serta salah satu penyebab banjir. Hingga saat ini belum ada solusi yang baik dari pemerintah kota mengenai sampah yang menjadi momok bagi lingkungan kota Bandar Lampung.

Penanganan sampah di kota ini tidak bisa dilakukan dari pemerintah saja, melainkan masyarakat, pelajar, dan pendatang, yang harus menjaga kebersihan lingkungan sekitar dari sampah plastik. Minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan dari sampah, sehingga membuat mereka sering membuang sampah sembarangan. Dinas pemerintahan kota Bandar Lampung, terkadang tidak sesuai dengan fungsinya. Contohnya saja bisa kita lihat dari keadaan sampah yang masih banyak berserakan di pinggir-pinggir jalan, di dekat aliran air, seperti sungai, selokan,dan lain-lain. Padahal dinas pemerintahan pasti memiliki anggaran untuk kebersihan lingkungan kota Bandar Lampung yang dapat digunakan untuk menangani sampah dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat akan bahaya sampah plastik dan memberi solusi tentang penanganan sampah tersebut. Penanganan sampah yang tidak baik ini, dapat kita lihat dari penurunan ekowisata Lampung yang cukup tinggi. Hal ini terjadi karena kurangnya kebersihan  dan konservasi di lingkungan tersebut.

Ekowisata memiliki peranan penting bagi perkembangan suatu daerah. Daerah itu dapat dikatakan baik, apabila ekowisatanya pun baik. Ekowisata juga dapat memberikan kesejahteraan sosial - ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah. Dampak positif bagi masyarakat ialah mereka mendapat pekerjaan tambahan, seperti ; menjaga tempat ekowisata, menyewakan kapal, berdagang, dan lain-lain. Bagi pemerintah, mereka dapat menaikkan devisa melalui pengembangan ekowisata dan mampu menaikkan citra daerah.

 Penanganan sampah di daratan yang tidak baik, ternyata mampu menyebabkan kerusakan ekosistem di  teluk Lampung  juga. Sampah plastik yang  dibuang atau berserakan di tepi sekitar pantai ketika air laut mulai pasang secara  langsung akan terbawa mengikuti arus yang sedang berputar. Sampah plastik tersebut  bisa menutupi terumbu karang yang ada di dasar laut, sehingga dapat menggangu proses kelangsungan hidup terumbu karang. Terumbu karang merupakan pusat kehidupan dari organisme organisme di bawah laut yang sangat indah jika dilihat. Betapa sayangnya, apabila penanganan sampah ini tidak ditanggapi dengan cepat oleh masyarakat dan pemerintah.   

Oleh karena itu, saya mempunyai beberapa ide, agar masalah sampah ini dapat ditangani, yaitu dengan cara pembuatan dan peletakkan kotak sampah disetiap sudut-sudut yang kemungkinan besar menumpuknya sampah, sehingga lingkungan tidak tercemar, memasang  papan yang berisi himbauan-himbauan peringatan tentang larangan membuang sampah sembarangan, membuat lokasi penumpukan sampah atau pembakaran sampah plastik, menerapkan satu hari bersih dalam satu minggu, menerapkan hukum tentang pelanggaran pembuangan sampah sembarangan,dan menata atau membuat di setiap  fakultas agar timbul kesadaran  bahwa “My Campus is beautifull”.

Langkah awal yang harus dilakukan ialah memberi penyuluhan langsung dan tidak langsung. Penyuluhan secara langsung ialah penyuluhan yang langsung kepada masyarakat akan bahaya sampah bagi kehidupan. Sedangkan penyuluhan secara tidak langsung  melalui media-media, seperti, koran, majalah, selebaran, radio, dan televisi. Selanjutnya kita bisa mengajak pelajar, pegawai pemerintahan, dan masyarakat umum untuk menerapkan satu hari bersih dalam satu minggu.  Kemudian kita dapat membuat kotak sampah dan menetapkan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di setiap kampung, maupun kota. Setelah itu, pemerintah dapat mengadakan follow up di setiap daerah, agar usaha penanganan sampah ini berjalan dengan baik dan terus menerus. 

Kegiatan penanganan sampah di kota Bandar Lampung  ini mempunyai dampak positif bagi masyarakat kota. Dampak positifnya ialah kota dapat menjadi bersih, indah, nyaman, dan tentram. Selain itu, ekowisata kota Bandar Lampung akan mengalami peningkatan dan memberikan kenyamanan bagi pengunjung, sehingga dapat menarik turis-turis untuk mengunjungi kota Bandar Lampung.  Dari ekowisata inilah, sosial-ekonomi masyarakat dapat menjadi baik dan pendapatan daerah juga  meningkat.